Forumakademik- Setelah sebelumnya Temans telah belajar tentang (baca juga:) Apa Sih Hipotesis Itu?,pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama belajar tentang bagaimana cara merumuskan hipotesis yang baik dan benar. simak terus ya #SerbaSerbiSkripsi dengan pembahasan masih terkait tentang Hipotesis Penelitian.

PERUMUSAN HIPOTESIS

Pernyataan hipotesis dapat dirumuskan menjadi dua yaitu:

a. Hipotesis Null (H0)

H0 merupakan suatu pernyataan yang diartikan sebagai tidak adanya perbedaan antara ukuran populasi dan ukuran sampel. Selanjutnya, untuk memudahkan memahami hipotesis null, para peneliti biasanya mengatakan bahwa hipotesis null seperti suatu pernyataan tentang “status quo” yang menyatakan “tidak adanya hubungan antar variabel” atau hipotesis yang menyatakan tidak adanya perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok lain. Dengan kata lain, Ho sering disebut sebagai “hipotesis yang ingin ditolak”.

Contoh hipotesis null:

  • tidak ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y
  • tidak ada hubungan antara tinggi badan dan berat badan
  • tidak ada hubungan antara IPK dan performance mahasiswa
  • tidak ada perbedaan prestasi belajar mahasiswa S1 dan mahasiswa D3

b. Hipotesis Alternif (Ha)

Ha merupakan kebalikan dari pernyataan hipotesis nol, yakni adanya perbedaan data populasi dengan data sampel. Ha juga merupakan hipotesis lawan atau hipotesis tandingan dari H0 dan sering disebut sebagai “hipotesis yang ingin diterima”.

Contoh hipotesis alternatif:

  • variabel X berpengaruh signifikan terhadap Y
  • terdapat hubungan antara tinggi badan dan berat badan
  • terdapat hubungan antara IPK dan performance mahasiswa
  • terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa S1 dan mahasiswa D3

 

PENGUJIAN HIPOTESIS

Untuk menyatakan apakah hipotesis null diterima atau ditolak, maka harus dilakukan pengujian hipotesis. Uji hipotesis merupakan prosedur statistik untuk menunjukkan kesahihan suatu hipotesis. Uji ini diperlukan karena pengamatan dilakukan pada sampel, sedangkan peneliti ingin menggeneralisir hasil studinya pada populasi.

Dalam rangka menguji hipotesis maka diperlukan data atau fakta-fakta. Kerangka pengujian juga harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum peneliti mengumpulkan data. Pengujian hipotesis juga memerlukan pengetahuan yang luas terkait teori, kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik dan teknik-teknik pengujiannya.

Cara pengujian hipotesis bergantung dari metode dan desain penelitian yang digunakan. Namun, yang lebih penting lagi pernyataan hipotesis harus dibuat dengan mengacu pada rumusan masalah penelitian ataupun tujuan penelitian.

Misalkan dalam suatu penelitian memiliki tujuan sebagai berikut:

“Untuk mengetahui pengaruh variabel X1 terhadap Y”

Dengan demikian berdasarkan tujuan penelitian tersebut maka pernyataan hipotesis dapat dibuat sebagai berikut:

a. Hipotesis Penelitian

  • H0 : Diduga variabel X1 tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Y
  • Ha  : Diduga variabel X1 berpengaruh signifikan terhadap variabel Y

b. Hipotesis Statistik

  • H0 : β1 = 0    atau    β1 ≤ 0       atau    β1 ≥ 0
  • Ha : β1 ≠ 0                β1 > 0                   β1 < 0

Baca juga : Apa Sih Hipotesis Itu?

Dalam melakukan pengujian hipotesis, hal-hal berikut ini yang perlu diketahui oleh setiap peneliti, yaitu:

  • Jika hasil keputusan hipotesis adalah benar, maka seorang peneliti akan mampu membuat suatu kesimpulan berkaitan dengan konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati
  • Melakukan pemilihan berbagai metode penelitian yang dapat digunakan dan membantu dalam proses pengamatan, eksperimentasi, atau prosedur lain yang diperlukan
  • Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak
  • Secara umum hipotesis dapat diuji dengan dua cara, yaitu mencocokkan dengan fakta atau dengan mempelajari konsistensi logis. Dalam menguji hipotesis dengan mencocokkan fakta, maka diperlukan percobaan-percobaan untuk memperoleh data. Data tersebut kemudian kita nilai untuk mengetahui apakah hipotesis tersebut cocok dengan fakta tersebut atau tidak. Jika hipotesis diuji dengan konsistensi logis, maka si peneliti memilih suatu design dimana logika dapat digunakan, untuk menerima atau menolak hipotesis

Perlu diingat bahwa pengujian hipotesis dibuat untuk menguji parameter model, bukan menguji variabel dalam model. Hal itu dikarenakan parameter memiliki nilai sedangkan variabel tidak.

 

 

Penulis : Andar